NONA KISAR DIBALIK SEJARAH KPK

  • Whatsapp

Agustine Rarahere Noach, nona hitam manis tinggi semampai, adalah mahasiswi Universitas Indonesia, dan saat ini menjalani semester tujuh merupakan salah satu bagian dari sejarah dalam penyelamatkan lembaga super body KPK.

Betapa tidak, nona (panggilan akrabnya-red) bersama beberapa rekannya terpilih mewakili mahasiswa Universitas Indonesia untuk membela KPK dalam siding uji materi hasil resvisi UU KPK yang berlangsung di Mahkamah Konstitusi.

Uji materi  terhadap UU KPK secara formil dan materiil atas revisi UU KPK diajukan oleh 18 orang mahasiswa dari sejumlah universitas. Dalam sidang perdana Selasa (1/10) lalu tersebut, hanya ada lima orang pemohon yang menghadiri sidang, termasuk “nona Kisar” Agustine Rarahere Noach.

Nona yang lahir di Jakarta 21 tahun lalu atau tepatnya 6 Apil 1998, adalah putri sulung pasangan Benyamin Thomas Noach dan Rely A H Loblobly, sangat tertarik dengan persoalan korpusi di Indonesia. Nona pun mulai mendalami ilmunya pada Fakultas Hukum UI pada jurusan Hukum Pidana.

Namun ketika tahun 2018 lalu Nona menjalani magang di Kejaksaan Agung, ternyata didapati bahwa tidak selamanya persoalan korupsi hanya dilihat dari perpektif hukum pidana saja, namun juga dapat dilihat dari perspektif Hukum Administrasi Negara, maka saat ini nona nekat pindah jurusan dari hukum pidana ke hukum administrasi negara. 

”Ternyata menangani persoalan korupsi tidak hanya dapat dilakukan melalui jalur pidana, namun pada ada tantangan tersendiri juga jika korupsi dilihat dari perpektif HAN, “jelas Nona Noach.

Cita-cita untuk menjadi ahli hukum diseriusinya saat menyelesaikan sekolah menegahnya di SMA St. Ursula BSD pada 2016 dan memilih menekuni ilmu hukum di Universitas Indonesia.

Sang ayah, Benyamin Thomas Noach, yang juga adalah Bupati Maluku Barat Daya (MBD), mengaku tidak pernah mengarahkan putri tunggalnya dalam menekuni kuliahnya tersebut.

“Anak saya itu (nona) tidak pernah saya arahkan harus begini atau harus begitu. Hanya harus tepat pada target belajar. Itu saja, “tutur Noach.

Hal senada juga disampaikan sang ibu, Rely Noach. Dirinya hanya dapat berdoa dan meminta perlindungan Tuhan, agar seluruh proses belajar dan perkuliahan anak-akanya dapat berjalan lancar.

“Saya tidak mau mengintervensi proses belajarnya dia (nona-red). Saya hanya berdoa semoga anak-anak saya diberi kesehatan dan kekuatan oleh Tuhan Yesus dalam seluruh aktivitas mereka sejak bangun pagi hingga tidur malam, ‘tutur sang ibu.

Bukan hanya belajar di lembaga formil, nona juga sangat aktif di organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Dirinya mengaku, banyak memiliki jaringan diskusi kemahasiswaan ketika berada di GMNI. Selain itu di GMNI juga dirinya belajar berorganisasi dan berbicara di depan umum.

“GMNI yang dapat membuat saya berkarakter. GMNI pula yang membuat saya melihat luasnya jaringan mahasiswa di Indonesia, ‘jelas nona.

Ketika banyak yang beranggapan bahwa mimpi untuk kuliah di Universitas Indonesia merupakan mimpi yang tak mungkin untuk dicapai, maka saat ini Agustine Rarahere Noach mengatakan bahwa, bermimpi itu indah apabila dibarengi dengan niat dan tekad kemauan yang berujung pada giat belajar.

“Jangan takut untuk bermimpi saudaraku, karena sebuah keberhasilan dimulai dari mimpi namun harus diikuti dengan niat dan tekad kemauan yang berujung pada giat belajar, agar mimpi tersebut bias tercapai, “pungkas nona Agustine Rarahere Noach. (**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *