Bangkrutnya PT. Kalwedo, Siapa Calon Tersangka dan Siapa Yang Untung ?

  • Whatsapp

87News.com,Ambon – Teka-teki siapa aktor dibalik bangkrutnya PT. Kalwedo perlahan mulai menunjukan titik terang. Informasi dari lingkup Kejaksaan Tinggi Maluku yang menangani kasus tersebut menyatakan, penyidik Kejati Maluku telah mengantongi nama calon tersangka, dan akan diumumkan setelah BPKP Perwakilan Maluku menyerahkan hasil audit kerugian negara.

“Kita tunggu hasil audit BPKP baru kita tetapkan tersangka,”jelas sumber tersebut.

Ketika disinggung nama mantan Direktur PT. Kalwedo, Lukas Tapilouw, sumber tersebut hanya tersenyum dan kembali tak mau berkomentar soal calon tersangka.  “Jangan sekarang. Tunggu BPKP,”jelasnya.

Sementara itu, sumber terpercaya delapan7news.com menyebutkan nama Lukas Tapilouw sebagai orang yang bertanggung jawab atas bangkrutnya BUMD milik Pemkab MBD tersebut.

Sumber yang meminta namanya tidak dipublish itu mengatakan, pada bulan Oktober 2015 dimasa Lukas Tapilouw memimpin, PT. Kalwedo mendapat kucuran dana dari Kementrian Perhubungan sebesar kurang lebih Rp.3 milyar untuk biaya operasional KMP. Marsela.

Pada bulan Januari hingga Maret 2016 KMP. Marsela tidak beroperasi karena kondisi laut yang tidak bersahabat. Dan pada bulka itu juga (Januari hingga Maret 2016),  Lukas Tapilouw sebagai Direktur PT. Kalwedo memalui bendahara perusahaan melakukan penarikan uang milik perusahaan secara beruntun. Dimana untuk setiap penarikan itu, jumlah uang yang ditarik dari kas PT. Kalwedo berjumlah ratusan juta rupiah. Diduga milyaran rupiah uang perusahaan tersebut digunakan Luckas untuk kepentingan pribadinya.

“Saat itu juga karyawan KMP. Marsela menuntut agar gaji mereka dibayarkan, namun pihak perusahaan tidak mampu membayar gaji karyawan karena tidak ada uang pada kas perusahaan, “jelas sumber tersebut.

Sikap “jumawa” ini kemudian berlanjut bulan April 2016, dimana saat itu pihak perusahaan mendapat suntikan dana berupa dana penyertaan modal dari pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya sebesar Rp.1 miliard lebih. Dan kembali uang itu ludes  digarap oleh Lukas.

“Jadi total dana yang masuk selama Lukas Tapilouw menjabat sebagai Direktur PT. Kalwedo itu kurang lebih Rp.7 miliard,”ungkapnya.

Kemudian lanjutnya, pada era kepemimpinan Billy selaku Direktur PT. Kalwedo ada lagi dana segera sebesar kurang lebih Rp.2 miliard lebih dari Kementerian Perhungungan untuk operasional kapal. Namun uang tersebut digunaan untuk bayar gaji karyawan dan hutang yang diritnggalkan oleh Lukas. Dengan demikian. dalam kurun waktu tahun 2016, PT. Kalwedo memiliki dana sebesar kurang lebih Rp.10 miliard.

“Dana Rp.2 miliard lebih dari Kemeterian Perhubungan digunakan untuk membayar gaji karyawan dan hutang-hutang yang ditinggalkan oleh Lukas, termasuk hutang bahan bakar saat Lukas Tapilouw jadi Direktur PT.Kalwedo, “bebernya.

Yang lebih mengejutkan, semasa menjabat sebagai Dirut PT. Kalwedo, Lukas Tapilouw sembat membeli satu unit mobil Avanza dan tiga unit sepeda motor, dan dana yang digunakan untuk pengadaan kendaraan tersebut menggunakan uang milik perusahaan. Anehnya kendaraan-kendaraan tersebut tidak tercatat dalam daftar inventaris perusahaan.

Sementara itu, Lukas Tapilouw yang dihibungi melalui dua nomor telepon selulernya untuk dikonfirmasi, semua nomornya tidak aktif.

 

Francois “Aleka” Orno Untung Banyak

Pendapatan KMP Marsela yang dikelola oleh PT. Kalwedo ternyata bukan hanya dari jasa tiket penumpang maupun barang, namun salah satu sektor yang seharusnya menjadi sumber pendapatan adalah kantin yang ada pada kapal Ferry tersebut. Namun anehnya biaya kantin pada KMP. Marsela tidak pernah masuk ke kas PT. Kalwedo.

Sumber resmi delapan7news.com yang juga adalah salah satu staf di PT. Kalwedo Kamis (6/5) mengungkapkan, kantin yang ada pada KMP. Marsela dikelola oleh Francois alias Aleka Orno dan istrinya. Aleka Orno sendiri diketahui adalah adik kandung dari mantan Bupati Maluku Barat Daya, Barnabas Orno yang kini menjabat selaku Wakil Gubernur Maluku.

“KMP. Marsela mulai beroperasi pada tahun 2012, dan pada saat itu juga kantin sudah ada dan dikelola oleh pak Aleka dan istrinya, “ujar sumber tersebut.

Selama melakukan dan menangani kantin yang menjual kebutuhan makan dan minum bagi penumpang dan ABK di kapal tersebut, tidak pernah ada setoran dari pengelola kantin kepada pihak perusahaan.

“Sama sekali tidak pernah ada pemasukan dari kantin. Silahkan dicek pada pembukuan perusahaan yang mencatat arus masuk keluar uang dan pendapatan kapal, “tegasnya.

Dikatakannya, managemen perusahaan tidak melakukan penagihan uang jasa pengelolaan kantin di kapal tersebut, karena pihak management dalam hal ini bagian keuangan tidak berani meminta ataupun menagih uang jasa pengelolaan kantin, karena yang mengelola kantin tersebut adalah adik kandung Bupati Maluku Barat Daya saat itu, yakni Barnabas Orno.

“Jujur saja managemen tidak berani menagih uang jasa pengelolaan kantin. Itu karena yang mengelola kantinnya adalah adik kandung bupati saat itu. Jadi pihak management juga taku untuk menagihnya,”tutur sumber ini.

Dijelaskannya, omzet kantin dalam setahun diperkirakan berkisar 300 hingga 400 juta rupiah. Jika dihitung untuk sekali pelayaran pulang pergi, pemasukan kantin yang dikelola oleh Aleka Orno yang kini adalah anggota DPRD Provinsi Maluku itu bisa berkisar antara Rp.75 juta hingga Rp.100 juta.

“KMP. Marsela sendiri melakukan pelayaran pulang pergi sebanyak 4 kali dalam sebulan. Itu berarti jika dihitung dalam sebulan saja pengelola kantin dapat meraup keuntungan sekitar Rp. 300 sampai Rp.400 juta. Akan tetapi tidak pernah ada penyetoran dari pihak pengelola kantin kepada pihak management perusahaan.

“Kalau tidak percaya silahkan cek pembukaan pendapatan KMP. Marsela yang ada pada perusahaan PT. Kalwedo, “pungkasnya.(**)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *